OBAT KEDEWASAAN DIRI
OBAT KEDEWASAAN : KETAJAMAN BERPIKIR UNTUK MERASAKAN KETENANGAN HIDUP MELALUI KETERAMPILAN MEMAHAMI ARTI KEBAHAGIAAN Entah dari mana aku harus memulai tulisan ini, yang jelas awal kata dari tulisan ini adalah "Entah…
Baca tulisan ↗OBAT KEDEWASAAN : KETAJAMAN BERPIKIR UNTUK MERASAKAN KETENANGAN HIDUP MELALUI KETERAMPILAN MEMAHAMI ARTI KEBAHAGIAAN
Entah dari mana aku harus memulai tulisan ini, yang jelas awal kata dari tulisan ini adalah "Entah" mungkin itu yang bisa kujadikan sebagai awal kata, sebagai suatu kata yang menjawab keadaan "tidak tahu", mengapa saya awali dengan tidak tahu? berangkat dari merasa kosongnya diri ini.
Baiklah, tulisan ini aku dedikasikan untuk tidak kepada siapapun juga. mengapa? karena tulisan ini ada karena seharusnya memang ada, bukan untuk siapa-siapa, dan "entah" apa tujuannya.
Tulisan ini hanya akan ada manfaatnya jika benar-benar dibaca sampai selesai, secara sempurna dipahami oleh Pembacanya.
Tulisan ini titipan, entah dari siapa, dan entah untuk siapa, yang jelas jika tulisan ada maka tentunya akan ada pembacanya.
kita mulai,
Hidup itu dapat ditapaki dengan indah dan penuh ketenangan apabila kita mampu menerima kesemuanya dengan ikhlas, itu artinya peranan penting dalam kehidupan adalah penerimaan atau keikhlasan terhadap apapun yang terjadi pada diri kita dalam menjalani kehidupan ini.
Ingat Kuncinya adalah Penerimaan dan atau Keihklasan, dan satu kata Ajaib yang harus dijadikan pegangan, ini bisa digunakan semua orang, apa kata ajaib itu? INI PASTI BERLALU, gunakan kata ini setiap saat, agar anda ingat bahwa apapun yang sedang anda alami pasti berlalu, entah itu sedih, kecewa, sakit, sakit hati, susah, rasa malu, senang, bahagia, lucu, malu, apapun itu pasti berlalu, maksudnya disini membuka kesadaran dan kontrol diri anda terhadap sesuatu hal apapun yang terjadi bahkan sedang menimpa anda, agar tidak berlebihan dalam menyikapinya, tidak berlebihan untuk bertindak, dan tidak berlebihan menilainya.
Menurut saya, semua manusia yang lahir ke Dunia ini ditentukan hanya untuk satu tujuan oleh Penciptanya, yaitu untuk merasakan Kebahagiaan. Cam-Kan Kata BAHAGIA, Tujuan Tuhan untuk kita dihadirkan di Dunia ini adalah agar Bahagia, mari pelan-pelan berpikir, pelan saja, tidak perlu terlalu kritis atau protes, sampai disini saya menulis masih dalam tahap pendahuluan, agar ketika sampai pada pokok dari tulisan ini para pembaca mampu memahami dirinya sendiri mengapa ada di dunia ini. Oke, kita kembali kepada kata Bahagia, tuhan kita sepakati bertujuan agar Manusia Bahagia hidup di dunia ini, saya menyakini salah satu pembaca atau banyak dari pembaca tulisan ini akan protes, salah satunya pasti tidak sepakat bahwa seluruh manusia yang lahir ke dunia ini satu tujuan yaitu merasakan Kebahagiaan, ketidaksepakatan ini berasal dari pikirannya yang mengingat bahwa hidupnya penuh dengan penderitaan, begitu bukan? merasa tidak adil, merasa banyak hal yang tidak berpihak kepada diri anda. Iya, saya juga sepakat bahwa anda salah satu yang tidak beruntung atau malang. Cermati bung, merasakan kebahagiaan itu tidak gratis, tidak serta merta diberikan begitu saja, sadari bahwa kita adalah makhluk Proses, Resapi pelan-pelan saja, tidak perlu resistensi atau emosional, amarah anda itu atau antipati anda itu hanya sekelumit kerumitan anda sendiri yang berkutat dalam penderitaan yang anda nikmasi sendiri, berenang-renang dalam penderiutaan yang tidak seharusnya, saya ulangi, MANUSIA ADALAH MAKHLUK PROSES, jika manusia menerima sesuatu dengan instan, atau tidak ada proses yang berarti dilalui maka tidak akan menikmatinya sebagai Kebahagiaan, itu akan terasa seperti biasa saja, bukan suatu hal yang membahagiakan. biasa dan hanya biasa saja.
Tidak sedikit pembaca akan merasa bahwa tulisan ini seperti kumpulan sampah saja, ya biarlah demikian, karena kita ketahui sendiri ternyata hanya orang-orang yang mau berproses dan berusahalah yang mengerti arti bahagia, dan bisa merasakannya, sama halnya dengan para pembaca yang baru membaca tulisan ini sampai disini, sampai pada kalimat ini langsung memberikan penilaian, itulah tanda-tanda ia hanya mampu menilai dan tidak mampu berpikir, dan ia hanya seorang pecundang yang ingin merasakan kebahagiaan tanpa melalui Proses apapun juga, ingin instan, ekspres, serba tersedia, dia lupa bahwa dirinya sendiri pun sampai diusia saat ini mengalami proses, jika anda (pembaca) sangat ingin bahagia, bacalah tulisan ini dengan memahaminya, bukan sekedar membaca, tulisan yang kami tulis ini akan terlihat sangat buruk jika dibaca tanpa menggunakan akal dan pikiran dengan disertai kebajikan dan kebajikan, namun apabila anda menggunakannya maka sudah pasti mampu untuk mengambil sari pati dari tulisan kami ini.
Dari pada terkesan basa basi, di bagian Pendahuluan saja sudah terlalu panjang, banyak kata, lebih baik langsung kita masuki bagian akhir dari Pendahuluan ini, Setiap Bahagia itu mesti ditebus melalui Proses, apakah itu Proses yang dilalui kepedihan atua penderitaan atau sekedar masalah dalam arti seluas-luasnya atau hanya proses biasa, jadi tergantung bagaimana anda mengukurnya, ukuran prosesnya dan ukuran kebahagiaan yang anda dapatkan, dan pada akhirnya anda mampu menarik kesimpulan dari apa yang telah anda peroleh dari upaya anda mencapai kebahagian itu.
Baiklah, yang paling mudah dan sangat sering terjadi dalam kehidupan mengenai percintaan, dunia tentang kisah cinta dilalui setiap insan yang hidup. kita mulai dari kisah seorang Pria yang cukup dewasa, mengembara cinta sejak mengetahui bahwa hidup inipun ternyata hasil dari cinta kasih, yang bermula dari Tuhan, hingga manusia mampu merasakannya, Pria yang akan kita kisahkan disini kita sebut saja "Romeo", Romeo lahir dengan penuh kesucian, polos tanpa dosa yang singkatnya ia beranjak dewasa hingga berencana untuk menikah setelah ia merasa telah cukup dan mampu untuk menjalani kehidupan berumah tangga, bertahun-tahun ia berjuang mendapatkan seorang wanita yang dianggapnya sebagai wanita yang tepat untuk diperistri, sekira 9 hampir menuju 10 kalender dilaluianya bersama kekasihnya itu, singkatnya ketika hendak menuju Pelaminan (hampir menikah), harus kandas dan batal karena ternyata penilaian matang dari Romeo diakhir puncaknya ternyata wanita itu tidak tepat untuk dijadikan Istrinya, calonnya itu sangat kasar kepadanya, sering berkata dan bertindak melampai kodrati-nya sebagai wanita, wanita diciptakan dengan kodrati lemah lembut, tapi apa yang didapat Romeo? belum lagi menjadi Istri, sudah terlampau kasar baik tindakan maupun kata-karanya kepada Romeo, singkatnya mereka batal menikah, coba nilai apakah itu penderitaan yang dialami mereka? tunggu dulu, jangan telalu cepat menilai, diawal kebatalan pernikahan mereka salah satunya pasti merasa itu sangat menyedikan, sakit hati, terlepas siapa yang membatalkannya, memang dalam hal ini Romeo yang membatalkan Pernikahan itu, tentu Calonnya dan Keluarga Calonnya sangat terpukul bahkan sangat kecewa, lalu apakah Romeo tidak mengalami kepedihan? ya, rasa yang sama dialami oleh Romeo namun oleh penyebab yang berbeda, dia (romeo) merasa kecewa karena ternyata dia keliru dan salah dalam menentukan pilihannya, keduanya merasa kecewa, sakit hati dan sedih, tidak sampai disitu, setelah mereka berpisah, Romeo kemudian dalam beberapa waktu bertemu dengan wanita yang dianggapnya sesuai untuk kemudian menikah
Romeo pun memulai kembali perjalanan panjangnya dalam menemukan arti kebahagiaan yang ia yakini. Pada mulanya, ia mengira bahwa luka lama akan menjadi tembok besar yang menahan dirinya untuk mencintai lagi. Namun seperti kalimat ajaib yang telah kita sepakati sebelumnya "INI PASTI BERLALU" luka yang semula ia kira akan kekal, perlahan menjadi guru yang sangat baik. Waktu dan proses menyembuhkan, sekaligus mengajarkannya sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar memiliki seorang pasangan: yaitu kebijaksanaan dalam memilih dan kedewasaan dalam mencintai.
Setelah peristiwa pahit itu, Romeo bertemu dengan seorang wanita. disini anggap kita menyebutnya “Sofia” bukan karena ingin romantis seperti kisah Shakespeare, melainkan sebagai simbol harapan baru. Mereka menikah dengan keyakinan dan restu penuh, bukan paksaan atau sekadar karena sudah terlalu lama bersama. Dari pernikahan itu lahirlah buah hati yang menggenapkan definisi cinta yang lebih murni.
Namun... apakah setelah menikah Romeo kemudian bahagia setiap hari? Tidak. Ini bagian pentingnya.
Banyak orang gagal paham bahwa pernikahan adalah rangkaian proses panjang yang tidak selesai pada hari akad atau pesta resepsi. Justru setelah ijab kabul terucap, seorang manusia diuji kesungguhannya dalam mencintai dan menerima. Romeo pun kerap mendapati dirinnya berselisih dengan Sofia, ada kalanya ia merasa kurang dihargai, kadang merasa tidak dimengerti. Di sisi lain, Sofia juga memiliki luka, ego, dan kepentingannya sendiri. Mereka sama-sama manusia. Mereka sama-sama sedang belajar.
Lalu di titik inilah banyak manusia gagal, menyerah, atau mengutuk hidup dan takdir. Padahal, bukankah sejak awal kita sudah sepakati bahwa:
Bahagia itu ditebus melalui proses.
Dan bagaimana mungkin kita mampu menikmati rasa bahagia yang mendalam jika kita tidak pernah melalui kepedihan yang cukup? Bagaimana bisa kita merayakan ketenangan jika kita tidak pernah dirundung badai? Bagaimana berarti sebuah pelukan jika hati tidak pernah merasakan kesepian?
Di sinilah letak kedewasaan yang sesungguhnya:
Kedewasaan adalah ketajaman berpikir untuk mengendalikan ketidakstabilan perasaan. Kedewasaan adalah kebijaksanaan menyadari bahwa hidup tidak harus selalu sesuai dengan kehendak kita. Kedewasaan adalah kemampuan menerima bahwa orang lain tidak wajib selalu membuat kita bahagia.
Kita Lanjutkan ke Inti dari Tulisan Ini
Manusia sering bertanya:
“Aku ingin bahagia, tapi kenapa hidupku banyak derita?”
Jawabannya sederhana:
Karena derita adalah jalan menuju bahagia.
Karena kebahagiaan tanpa proses hanya ilusi sesaat.
Karena Tuhan ingin kita menjadi manusia yang layak menikmati kebahagiaan itu.
Jika seseorang meminta kedewasaan, Tuhan mengirimkan masalah.
Jika seseorang meminta kekuatan, Tuhan memberikan ujian.
Bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menjadikan manusia itu benar-benar mengerti nilai syukur dan tenang.
Maka, di sinilah poin yang harus kita pahami:
Hidup ini bukan tentang menghindari penderitaan, tetapi tentang memahami bahwa segala yang terjadi memiliki tujuan agar kita semakin layak untuk bahagia.
Di ujung perjalanan, bukan sukses yang kau cari.
Bukan harta yang kau genggam.
Bukan pujian dunia yang kau kejar.
Yang kau cari adalah ketenangan.
Yang kau butuhkan adalah kedamaian batin.
Penutup Sementara (Sebelum Bab Selanjutnya)
Jika kamu sedang terluka, ingat, ini pasti berlalu.
Jika kamu sedang senang, ingat juga, ini pun pasti berlalu.
Kesadaran itu yang menjaga kita tetap bijak dalam bahagia dan kuat dalam derita.
Teruslah berproses, karena kamu adalah makhluk proses.
Dan pada akhirnya, kamu akan memahami:
Bahagia bukan tujuan akhir, melainkan cara memaknai setiap langkah yang sedang kamu lalui.


